Kesempatan akan memberi kita pilihan. Pilihan kita adalah mengambil kesempatan itu atau tidak!
Ketika Anda bertemu dengan seseorang yang membuat Anda tertarik, apa yang akan Anda lakukan? Mungkin hanya sekedar memandangi saja, atau mengajak berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Apapun yang Anda lakukan tidak menjadi masalah. Yang perlu Anda ingat adalah Anda telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya, selanjutnya adalah pilihan apa yang harus Anda ambil. Pilihan akan selalu ada dalam setiap kesempatan. Bahkan ketika Anda berpikir bahwa pilihan Anda hanya tinggal satu-satunya, masih ada satu lagi yang bisa Anda ambil, yaitu tidak mengambil pilihan yang ada tersebut. Tidak mengambil pilihan, juga merupakan suatu pilihan.
Perasaan cinta, simpatik, tertarik akan datang dalam berbagai kesempatan pada kita. Mungkin Anda tidak mau mengambil kesempatan itu untuk menentukan pilihan. Dalam hati Anda berkata, “Saya belum menemukan pasangan jiwa saya”. Mungkin Anda benar, dan mungkin juga Anda salah. Tetapi Anda tidak bisa tahu, apakah dia memang pasangan jiwa Anda bila tidak pernah menentukan pilihan padanya. Hubungan bisa dimulai dan bisa juga diakhiri. Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang yang diciptakan hanya untuk Anda. Tetapi sekali lagi, Anda boleh memilih untuk percaya atau tidak percaya, bahwa pasangan jiwa memang ada.
Saat Anda bertemu orang yang Anda anggap sebagai pasangan jiwa. Kesempatan telah menghampiri Anda. Dan selanjutnya, jika Anda memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya, maka itu adalah pilihan. Bersama dengan seseorang walau apapun yang terjadi, bahkan ketika Anda menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya, daripada pasangan Anda, tetapi Anda tetap mencintainya, itulah pilihan. Pilihan yang baik, saya kira. Tetapi sebaliknya juga, saat Anda memutuskan untuk mengakhiri suatu hubungan dengan pasangan Anda, apapun itu alasannya, itu juga pilihan. Dan akan banyak orang yang mengatakan itu pilihan yang buruk. Tetapi baik atau buruk, semua akan tergantung pada kondisi Anda saat menentukan pilihan.
Berbicara tentang pasangan jiwa, ada suatu kutipan yang mungkin sangat tepat : “Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil “. Anda mungkin telah bersama dengan pasangan jiwa Anda sekarang ini. Anda telah membuat pilihan yang bagus. Tetapi masih ada pilihan selanjutnya menunggu Anda. Yaitu untuk tetap mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa Anda. Dan itu adalah pilihan yang harus kita lakukan. Pilihan CINTA SEJATI.
Dalam kehidupan, kita diberi kesempatan untuk menikmati kehidupan tetapi bagaimana cara kita untuk menjalaninya adalah pilihan yang harus kita tentukan. Setiap orang akan mengambil pilihan yang berbeda-beda dan itu semua akan saling melengkapi satu sama lain. Maka dalam hubungan dengan pasangan kita, masing-masing dari kita akan mengambil peran masing-masing untuk saling melengkapi. Saling memberi dan menerima. Bertumbuh bersama dengan dasar cinta sejati yang sudah kita miliki.
Sebuah ungkapan yang bagus untuk direnungkan: “Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai, tetapi untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna”
Warning!!!: While you are reading this page, if someone appears in your mind, then.. ” You Are In Love With That Person”
Sumber : CeritaMotivasi
Sabtu, 11 Februari 2012
Berpikir positif z gk cukup
Beberapa minggu belakangan ini saya menjalani hari yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Saya menemukan sikap adalah hal yang terpenting dalam menjalani hidup. Saat sikap kita melenceng maka itu akan menjadi bahan gunjingan. Apakah itu yang kita mau?
Dalam bersikap sebagian orang memulai dengan cara kita berpikir. Pikiran akan menjadi kenyataan begitu katanya. Apalagi kalau kita berpikirnya secara positif maka hasilnya pun pasti positif. Terus apa yang terjadi apabila kita "terlalu" berpikir positif? Apakah hal baik masih terjadi? Jawabannya bisa ia dan bisa juga tidak.
Pada umumnya kalau sudah menyangkut dengan kata "terlalu" hal itu menjadi kurang baik. Ambil saja contoh kalau kita mau menyeduh teh, dan kita memberikan terlalu banyak gula maka hasilnya teh itu akan terasa terlalu manis. Terlebih rasa teh itu sendiri menjadi tidak terasa dan hanya rasa gulalah yang mendominasi.
Kembali ke masalah berpikir positif, maka hal itu pun akan terjadi. Jika kita terlalu berpikir positif, keseimbangan hidup akan sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Sehingga kita akan terlalu percaya diri, terlalu fokus dengan kepentingan kita sendiri, serta hal-hal yang lain yang bisa timbul.
Perkataan teman pun akan kita anggap sebagai omong kosong dan kita akan menjadi tidak perduli dengan lingkungan sekitar. Ada baiknya berpikir itu harus selaras dan sejalan dengan langkah kita dalam menjalani hidup. Bersikap menerima masukan pun akan menjadi lebih baik.
Berpikir positif saja tidak akan cukup tanpa adanya sikap menerima pendapat orang dengan lapang dada. Tidak mau kan kita dianggap angkuh dan berubah seratus sembilan puluh derajat? (ada melenceng sedikit he he he).
Dalam bersikap sebagian orang memulai dengan cara kita berpikir. Pikiran akan menjadi kenyataan begitu katanya. Apalagi kalau kita berpikirnya secara positif maka hasilnya pun pasti positif. Terus apa yang terjadi apabila kita "terlalu" berpikir positif? Apakah hal baik masih terjadi? Jawabannya bisa ia dan bisa juga tidak.
Pada umumnya kalau sudah menyangkut dengan kata "terlalu" hal itu menjadi kurang baik. Ambil saja contoh kalau kita mau menyeduh teh, dan kita memberikan terlalu banyak gula maka hasilnya teh itu akan terasa terlalu manis. Terlebih rasa teh itu sendiri menjadi tidak terasa dan hanya rasa gulalah yang mendominasi.
Kembali ke masalah berpikir positif, maka hal itu pun akan terjadi. Jika kita terlalu berpikir positif, keseimbangan hidup akan sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Sehingga kita akan terlalu percaya diri, terlalu fokus dengan kepentingan kita sendiri, serta hal-hal yang lain yang bisa timbul.
Perkataan teman pun akan kita anggap sebagai omong kosong dan kita akan menjadi tidak perduli dengan lingkungan sekitar. Ada baiknya berpikir itu harus selaras dan sejalan dengan langkah kita dalam menjalani hidup. Bersikap menerima masukan pun akan menjadi lebih baik.
Berpikir positif saja tidak akan cukup tanpa adanya sikap menerima pendapat orang dengan lapang dada. Tidak mau kan kita dianggap angkuh dan berubah seratus sembilan puluh derajat? (ada melenceng sedikit he he he).
Langganan:
Postingan (Atom)